Sebelumnya saya minta maaf kalau lancang.
Tadi pagi saya menghadiri pengajian setelah sekian lama tidak aktif lagi. isi dari pengajian tersebut membahas masalah hari kasih sayang (valentine). Menurut sejarahnya valentine itu barasal dari nama santa (merupakan gelar) valentino (kalau gak salah, agak lupa
) merupakan seorang pendeta yang di penggal kepalanya karena mendukung kebebesan perayaan yg sekarang disebut valentine.
Ceritanya begini, dulu waktu nasrani belum masuk ke romawi, orang-orang setiap tanggal 15 februari memperingati hari dimana menurut mereka adalah terjadinya dunia ini, dunia ini berasal dari kelakuan 2 dewa, yaitu dewa pan dan dewa … (waduh lupa lagi) nah yang dewa pan ini (mohon maaf) mempunyai kemaluan yang sangat besar melakukan hubungan layaknya suami istri dengan dewi yang aku lupa namanya ![]()
Perayaan tadi diawali dengan saling menukar bingkisan, dipisahkan bingkisan laki-laki dan perempuan nantinya akan ditukar bingkisan dari pihak laki-laki kepada perempuan, nantinya akan berpasang-pasangan, dan pada perayaan tersebut ada minum-minuman keras, kita tentu tahu apa jadinya jika terdapat laki-laki bersama perempuan dan ditemani dengan minuman beralkohol. Jadi begitulah sebenarnya inti dari perayaan tersebut.
Ketika agama nasrani datang ke sana dan rajanya masuk agama nasrani, kebudayaan tersebut dihapuskan atau tidak boleh dirayakan, ada seorang santa (kalau disini semacam ustadz) bernama valentino, dia berpendapat bahwa kebudayaan yang dulunya ada tersebut tidak boleh dilarang, karena pendapatnya tersebut dia dipenggal kepalanya pada tanggal 14 februari, nah untuk menghormati santa valentino tersebut maka umatnya memperingati tanggal 14 februari sebagai hari valentine untuk jasanya memperjuangkan perayaan terdahulu.
Kisah diatas bisa anda percaya atau tidak, tapi sebagai muslim harusnya kita tahu sejarahnya kenapa 14 februari tersebut diperingati, jadi jangan asal ikut-ikutan aja.
Tolong dikoreksi kalau ada salah
DakwahFebruary 11, 2008 3:39 am
8 Comments »
The URI to TrackBack this entry is: http://zulkarnain.blogsome.com/2008/02/11/awas-valentine/trackback/
RSS feed for comments on this post.
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>







Namanya mohammad zulkarnain, biasa dipanggil zul, lahir di Pamekasan tgl 7 Ramadhan 1405 H.
Anaknya pemalu, super cuek, suka jalan-jalan dan sangat hobi dengan ngutak atik komputer,
desain dan membuat web. suka musik apa aja yang penting enak didengar.
Secara pribadi gue juga gak pernah merayakan valentine tuhhh …
Good Posting, bro…
Comment by Nugraha — February 11, 2008 @ 10:04 am
Bagaimana dengan Maulid Rasul?
Kayaknya kita juga harus koreksi kedalam lah..
Seathu saya gak ada itu yang namanya memperingati maulid Rasul.
Comment by indonesiarepublik — February 11, 2008 @ 11:10 pm
copas dari blog ku “akomhome.blogspot.com
Hukum Merayakan Hari Valentine Buat Umat Islam
Pertanyaan
Assalamu’alaikum wr. wb.
Langsung saja pertanyaan saya Ustadz, bagaimana hukum merayakan hari Valentine dalam pandangan syariah Islam? Mohon dijelaskan hakikat dan sejarahnya. Mohon dijelaskan, terima kasih
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Nurahini Hendrawati
nura_stevenson
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Boleh jadi tanggal 14 Pebruari setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi lainnya. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang. Itulah hari valentine, sebuah hari di mana orang-orang di barat sana menjadikannya sebagai fokus untuk mengungkapkan rasa ‘kasih sayang’, walau pun pada hakikatnya bukan kasih sayang melainkan hari ‘making love’.
Dan seiring dengan masuknya beragam gaya hidup barat ke dunia Islam, perayaan hari valentine pun ikut mendapatkan sambutan hangat, terutama dari kalangan remaja ABG. Bertukar bingkisan valentine, semarak warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta dengan berbagai ekspresinya, menyemarakkan suasan valentine setiap tahunnya, bahkan di kalangan remaja muslim sekali pun.
Sejarah Valentine
Valentine’s Day menurut literatur ilmiyah dan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day.
The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).
Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi. Dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno.
Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.
Katakanlah, “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 1-6)
Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal bersama.
Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang haramnya umat Islam ikut menghadiri perayaan Natal masih jelas dan tetap berlaku hingga kini. Maka seharusnya juga ada fatwa yang mengharamkan perayaan valentine khusus buat umat Islam.
Mengingat bahwa masalah ini bukan semata-mata budaya, melainkan terkait dengan masalah aqidah, di mana umat Islam diharamkan merayakan ritual agama dan hari besar agama lain.
Valentine Berasal dari Budaya Syirik
Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.
Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari.
Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.
Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.
Semangat valentine adalah Semangat Berzina
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.
Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa.
Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.
Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.
Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks?
Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.
Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah SWT berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang, bahkan sekedar mendekatinya pun diharamkan.
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al-Isra’: 32)
Eramuslim Digest
Karena masalah Valentine ini sangat berat, maka kami terbitkan satu edisi majalah Eramuslim Digest yang khusus membahasnya.
Kami rasa pantas bila majalah ini dijadikan rujukan, sebab selain padat, kita juga diberikan ilustrasi gambar-gambar yang menarik. Kalau berminat hubungi saja pak Tio di nomor 021-999-80-000 atau 0813-999-80-000. Bahkan saat menjawab pertanyaan ini, kami sedang berada di Bandung untuk Road Show Eramuslim Digest edisi koleksi 5yg berjudul The Dark Valentine Satanic Ritual Yang Kini di Pujadi MQTV dan MQFM.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ahmad Sarwat, Lc @ eramuslim.com
Comment by Adrians Kurniawan — February 12, 2008 @ 9:47 am
palenten!!!!! biasa aja tuh…. g ada yg istimewa!!! (abis ngejomblo trs sih…) huhuhuhuhu….
Comment by dtrs — February 12, 2008 @ 9:56 am
Terima kasih buat adrians kurniawan
sejarah valentine yang lengkap
ayo kita lawan valentine tersebut jangan sampai kita ikut-ikutan didalamnya. gak ada manfaatnya
Comment by Anonymous — February 13, 2008 @ 5:03 am
sedikit tambahan dari saya..
MUI: Haram Rayakan Valentine
Majelis Ulama Indonesia dalam waktu dekat akan membahas mengenai perlu tidaknya dikeluarkan fatwa haram perayaan valentine. Tindakan MUI ini setelah adanya desakan dari berbagai kalangan agar MUI mengharamkan perayaan hari valentine yang diperingati setiap tanggal 14 Februari tersebut sebagai hari kasih sayang.
“Kalau dilihat perayaannya, tidak mengeluarkan fatwa secara khusus pun itu sudah haram karena banyak yang pesta-pesta, mabuk-mabukan. Jadi menurut saya perayaan tersebut sudah haram, ” ujar Ketua Dewan MUI KH Ma’ruf Amin, di Jakarta, Rabu (13/2).
Ia menilai, perayaan hari valentine yang diadopsi dari kebudayaan barat itu, identik dengan pesta pora dan mabuk-mabukkan, yang dilarang dalam ajaran Islam. apalagi ujung-ujungnya pasti mengarah ke perzinahan.
“Orang pasti tahu kalau perayaan sudah diluar aturan agama, pasti itu haram. Namun untuk menjaganya kita akan lakukan kajian terlebih dahulu, ” tegasnya.
Ritual Setanisme
Hari Valentine sendiri sesungguhnya berasal dari perayaan Lupercalia bangsa pagan Roma kuno yang diselenggarakan setiap tanggal 13 hingga 18 Februari. Pada malam menjelang tanggal 14 Februari, para pemuda dan pemudi Roma akan merayakan hari itu dengan pesta perzinahan. Inilah awal dari Hari Valentine yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Kasih Sayang (Affection) melainkan lebih kepada Sexuality (perzinahan) yang penuh maksiat.
Comment by Adrians Kurniawan — February 13, 2008 @ 1:52 pm
ANTI KRISTEN - ANTI BUDAYA SESAT SELAMANYA
Comment by IbnuiSa — February 14, 2008 @ 5:54 pm
ada banyak versi tentang valentine day. tapi ujung2nya tetep st. valentino yang dipenggal siy.. n intinya juga kita ga boleh taklid buta. ikut2an tanpa tahu apa yg diikuti, mengapa hrs mengikuti, n tujuan yang diikuti. termasuk maulid rasul juga, kalo’ mau menyelenggarakan tolong dilihat dulu latar belakangnya. jangan asal ngikut yang menyebabkan taklid buta. pun jangan gampang membid’ahkan sesuatu, ingatlah teladan para sahabat tatkala terjadi perbedaan formasi saat akan shalat berjamaah (imam di depan atau sejajar–red).
Comment by re_here — March 5, 2008 @ 12:25 pm